Tempo hari yang lalu saya mengunjungi kota Yogyakarta menghadiri salah satu perkumpulan Mahasiswa Indramayu (KAPMI) dalam rangkaian acara peringatan hari lahirnya yang ke 40. Acara waktu itu menurutku sangat menarik karena menyuguhkan berbagai keanekaragaman budaya Indonesia salah satu nya kesenian berokan yang mereka bawakan asli dari tanah kelahiran sendiri. Sayang sekali waktu yang lalu itu Aku tak menyangka bahwa akan ada acara pagelaran budaya seperti itu sehingga aku kurang persiapan untuk mendokumentasikan momen tersebut. Teringat waktu kecil ketika Berokan beraksi dan mengejar anak - anak seperti aku bahkan sampai masuk ke dalam rumah. Berikut adalah Sejarah, Asal usul, dan apapun tentang Berokan, kesenian yang berasal dari tanah kelahiranku.
Berokan atau Bengberokan, adalah
kesenian rakyat yang hidup di daerah Cirebon dan Indramayu. Pada umumnya para pemain berokan adalah laki-laki. Untuk
melibatkan penonton, Berokan digerak-gerakan dengan lincah, kedoknya dimainkan
seakan-akan mau mengigit penonton. Efek spontanitas ketakutan penonton
(terutama anak-anak) dimanfaatkan oleh pemain Berokan untuk semakin garang dan
menghibur. Pemainnya mengenakan topeng yang
terbuat dari kayu dan wajahnya menyerupai binatang atau raksasa yang
menakutkan. Mulutnya lebar dan bisa digerakkan ke atas ke bawah sehingga jika
digerakkan akan menghasilkan bunyi "plak-plok". Giginya nampak
seperti binatang yang tengah menyeringai. Warna kedoknya merah dengan bola mata
yang besar. Ujung topeng berokan disambung dengan selembar kulit kambing dan
karung goni atau waring yang lebarnya diperkirakan bisa menyelimuti orang yang
akan memainkannya. Panjangnya sampai setengah betis pemainnya. Di bagian
ujungnya disambung dengan kayu yang dicat belang-belang merah putih sehingga
mirip ekor ikan cucut. Jika akan dimainkan, maka pemain tersebut akan masuk ke
dalam kurungan karung goni tersebut sehingga ia tidak kelihatan dan yang nampak
hanya sebagian kakinya saja. Wujudnya seperti seekor binatang yang besar dan
berbulu. Di dalam kurungan berokan tersebut, kedua tangan pemain memegang
kepala berokan itu untuk digerak-gerakkan. Beberapa gerakannya antara lain
menjilat-jilat badan dan kaki; menengok ke kiri dan ke kanan;
mengatup-ngatupkan mulut; menggigit; dan sebagainya. Mulut pemain
tersebut mengulum sebuah benda yang disebut dengan empet, yang dibunyikannya
pada saat dialog dengan pemain musik yang mengiringinya. Bunyi yang
dihasilkannya sangat unik, dan segala apa yang diucapkannya hanya terdengar
bunyi pet-petan, sehingga sukar dimengerti. Segala ucapan berokan yang hanya
pet-petan itu biasanya diterjemahkan oleh seseorang yang berdialog dengannya
Alat musik yang dipakai terdiri atas: terebang, kendang besar dan kecil,
kecrek, dan ketuk. Kesenian ini biasanya dipertunjukkan melalui barangan
(ngamen) atau pertunjukan keliling. Akan tetapi, dapat pula dipanggil untuk
ditanggap.
Pertunjukan
Berokan biasanya diawali dengan tetalu dan kidung dalam bahasa ibu (Indramayu
atau Cirebon), dilanjutkan dengan tarian Berokan yang lambat, perlahan-lahan untuk
kemudian menjadi naik turun dan bergairah. Pertunjukan Berokan akan lebih
menarik lagi, jika dimainkan di atas pecahan kaca (beling) dan menari-nari di
atas bara api. Apabila pertunjukan Berokan dikaitkan dengan upacara tertentu,
biasanya dilakukan Kirab Sawan, yakni upacara penyembuhan atau untuk
keselamatan dan keberkahan. Kirab Sawan dilakukan setelah sesajen dan
persyaratan lainnya lengkap.
Oleh sebagian masyarakat Cirebon
dan Indramayu, Berokan dipercaya sebagai penolak bala. Misalnya jika datang
masa pageblug (epidemi penyakit), maka masyarakat yang terkena wabah penyakit
tersebut akan menanggapnya. Selain itu juga ditanggap untuk ruatan bagi
seseorang yang akan menempati rumah baru. Dalam ruatan rumah, berokan akan
masuk ke dalam rumah yang diruat sambil mengatup-ngatupkan mulutnya, kemudian
ia mengambil sebuah bantal dari kamar tidur. Pengambilan bantal adalah simbol
dari penolak bala agar rumah tersebut terhindar dari segala gangguan dan
penyakit. Bantal yang diambil tersebut kemudian harus ditebus dengan sejumlah
uang yang besarnya sesuai dengan keikhlasan si empunya rumah. Pada adegan
akhir, berokan akan mengejar penonton sebagai pertanda untuk mengusir bala.
Jika ia mengejar anak-anak, maka anak-anak tersebut akan lari terbirit-birit.
Demikian pula penonton lainnya. Jika grup berokan itu mengadakan bebarang,
mereka biasanya pergi keliling kampung dan bermain jika ada yang nanggap.
Lamanya permainan tergantung dari keinginan yang punya rumah, bisa setengah jam
atau bahkan sampai satu jam. Tempatnya di pelataran rumah dan ditonton
oleh masyarakat di sekitar rumah yang menanggapnya. Mereka dibayar
seikhlas yang menanggapnya dan penghasilan lainnya didapatkan dari uang saweran
para penonton.
Mengenai asal-usul berokan
dituturkan oleh Taham, dalang wayang kulit asal Indramayu berdasarkan cerita
wayang, sebagai berikut: Parikesit keturunan Arjuna dari Astina menikahi dengan
Putri Adhiyati putra dari Begawan Adhiyaka menjadi istri ketiganya. Dari tiga
permaisuri tersebut dikaruniai tiga orang putra yaitu: Jayadharma, Yudhayana
dan Yudhayaka. Suatu waktu terjadi peperangan, negara Astina diserang musuh.
Astina terdesak, Parikesit bersama istri-istrinyanya melarikan diri dan hanya
membawa putra pertamanya Jayadharma. Anak kedua Yudhayana entah pergi ke mana.
Sementara anak ketiga masih kecil masih berada dalam ayunan dan diselamatkan
oleh gajah peliharaan sang raja. Gajah yang membawa Yudhayaka kecil tersebut
terus berlari ke dalam hutan. Karena kecapaian sang gajah mati, Yudhayaka kecil
pun tergeletak di dekat penyelamatnya. Selang beberapa waktu ada pasukan
pemburu yang dipimpin Prabu Sulangkara, cucu dari Adipati Karna, Raja dari
Miantipura yang dulu bernama Petaperlaya. Dia mendengar ada tangis bayi, diperintahnya
para pasukan untuk mencari sumber tangis bayi tersebut. Betapa gembiranya Prabu
Sulangkara, dia menemukan bayi laki-laki. Karena Prabu Sulangkara tidak
mempunyai putra, maka dengan senang hati Yudhayaka diangkat putra dan dibawa ke
negaranya.
Beberapa tahun kemudian, kerajaan
Miantipura diserang oleh musuh yang berkekuatan lebih besar. Bala tentara
Miantipura banyak yang gugur dan sebagian lagi melarikan diri, mundur
melindungi benteng istana. Keluarga raja dengan sisa prajuritnya terkurung
dalam benteng istana tersebut. Prabu Sulangkara sedih, meskipun amarahnya masih
menyala, anak angkat yang diharapkan bisa menjadi kesatria dan putra mahkota
yang gagah perkasa, ternyata tidak bisa berperang. Yudhayaka tumbuh besar dan
lebih memilih seni lukis sebagai keahliannya. Tanpa sepengetahuan Prabu
Sulangkara, Yudhayaka ke luar sambil membawa alat lukisnya. Benteng istana
dilukisi dengan gambar hutan belantara, hasilnya sangat mirip dengan hutan
aslinya. Yudhayaka menunggu di dekat gerbang yang sudah dilukisinya, musuh
tidak mengetahui keadaan ini, ketika musuh mendekat ke gerbang Yudhayaka sudah
siap dengan kuasnya dan menusuk leher tentara musuh satu per satu. Tentara
musuh banyak yang gugur dan merasa ketakutan sehingga lari menjauh. Berita ini
sampai ke Prabu Sulangkara, Yudhayaka pun dipanggil untuk menceritakan
kejadiannya. Prabu Sulangkara heran bercampur kagum, putra angkatnya yang
dianggap tidak mempunyai keahlian justru dapat menyelamatkan negaranya. Untuk
lebih meyakinkan hatinya Prabu Sulangkara memerintahkan Yudhayaka melukis hutan
seisinya. Dalam waktu singkat perintah itu dijalankan, hasilnya persis degan
kenyataan. Prabu Sulangkara pun memerintahkan kembali untuk melukis laut
se-isinya. Perintah ini dijalankan Yudhayaka, tetapi pada saat menyelam ke
dalam laut Yudhayaka menemukan satu hewan yang hanya terlihat kepalanya saja di
dalam lubang atau rong (Cirebon). Berulangkali dia menyelam untuk melihat hewan
tersebut, akan tetapi tetap saja seperti semula, tidak ke luar-ke luar dan
tidak jelas atau ora babar-babar (Cirebon). Lukisan pun selesai dan
diserahkan ke Prabu Sulangkara. Melihat hasil lukisan tersebut, Prabu
Sulangkara sangat kagum, matanya tertuju pada bagian hewan di dalam lubang. Dia
bertanya pada Yudhayaka, ”Binatang apa ini?” ”Saya tidak tahu, karena binatang
itu tidak pernah meninggalkan lubang, jadi kelihatannya tidak jelas, karena Ora
babar-babar ning jero rong”, jawab Yudhayaka. Sulangkara kemudian bertanya
lagi: “bisa tidak kamu mewujudkan binatang ini untuk kesenian?” Yudhayaka menjawab:
“Bisa!” Kemudian Yudhayaka mencoba mewujudkan gambarnya dalam bentuk topeng
badawang dari kayu dan merangkainya dengan bahan lainnya. Bagian punggungnya
terbuat dari kulit kambing, badannya dibungkus dengan sejenis karung goni atau
waring, dan bagian ekornya terbuat dari kayu. Binatang imajinasi ini diberi
nama Barong, sebagai gambaran: ora babar-babar ning jero rong, yang kemudian
disebut dengan Berokan. (Yuli Adam Panji/Toto Amsar Suanda)
Sedangkan Menurut tuturan riwayat yang
diwariskan secara turun-temurun di kalangan senimannya, “Bengberokan” atau
“Berokan” adalah warisan Pangeran Korowelang atau Pangeran Mina, seorang
penguasa laut Jawa di wilayah Cirebon dan Indramayu. Namun terdapat pula tuturan yang
juga diwariskan di kalangan seniman berokan, bahwa berokan merupakan kreasi
Mbah Kuwu Pangeran Cakrabuana, ketika
menyebarkan syiar Islam ke
wilayah Galuh, sebagaimana yang
dilakukan oleh para wali, menggunakan pertunjukan sebagai media syiar agama,
ditujukan agar dapat mudah diterima lingkungan budaya pada saat itu.
“Ada pendapat bahwa kata berokan berasal dari
kata "barokahan" (keselamatan). Namun nampaknya keterangan tersebut
hanya sebuah kirata (bahasa Sunda, yang artinya dikira-kira
namun tampak nyata), sebuah gejala yang umum terjadi di dalam penamaan jenis
seni rakyat.”
Pertunjukan berokan ini sangat populer di
wilayah Cirebon dan Indramayu. Pada awalnya dilakukan sebagai bagian dari
upacara ruwatan dalam menanggulangipageblug (epidemi penyakit), menempati rumah
baru, dll. Namun, dewasa ini pertunjukan burokan lebih
banyak dipakai dalam memeriahkan pesta khitanan atau perkawinan.
Bengberokan
dimainkan juga pada upacara Ngunjung Buyut, yaitu upacara untuk menghormati arwah leluhur di pekuburan
desa-desa tertentu. Bengberokan merupakan kedok yang dibuat dari kayu, yang
bentuknya mirip dengan buaya. Warna kedoknya merah dengan mata besar yang
menyala, dengan mulut dapat digerakkan (dibuka–tutup) sehingga menghasilkan
bunyi "plak-plok".
Ada beberapa makna yang dapat disimpulkan dari
pertunjukan Berokan ini:
·
Makna mitis yaitu sebagai media penolak bala
yang menjadi awal mula fungsi Berokan. Dengan mempertunjukan Berokan,
dipercayai bahwa bala telah ditolak, dan dipercayai akan mendatangkan
kebahagiaan.
·
Makna sinkretis karena Berokan digunakan
sebagai media dakwah pada masa awal penyebaran syiar Islam di wilayah Cirebon.
·
Makna teatrikal karena Berokan beraksi menari,
mengejar, dan memainkan kepalanya serta berbaur dengan spontanitas penonton
yang merasa takut bercampur gembira
·
Makna universal, karena Berokan memiliki
kemiripan bentuk dengan Barongsay dan Chilin dari
Tiongkok, mahluk-mahluk naga dari Eropa Purba.
Salah satu kelompok Berokan yang
dewasa ini masih tetap berdaya, adalah kelompok Berokan yang dipimpin oleh Mama
Taham dari desa Tambi Kecamatan Sliyeg Kabupaten Indramayu.
ConversionConversion EmoticonEmoticon